![]() |
| sumber:memecreator.org |
Ya ampun lebay…(-‸ლ)
Day 1 (KKN)
Alkisah di hari pertama, kami berlima dipertemukan. Ah lebay lagi! Enggak-enggak, sebenernya sih udah beberapa hari sebelumnya kita dipertemukan. Tapi yang namanya KKN Lokasi itu gak keren kalo gak dibilang hari pertamanya baru ketemu. Enggak? Oke. Lo anggap aja gitu.Ya, di hari pertama KKN, yang sebelumnya udah diputusin secara sepihak, bahwa gue jadi Koordinator Mahasiswa Tingkat Desa, dalam artian lain I was elected to carry the ball that rolling with the rule that never made! Menjadi ketua pelaksana… hmm, gue sendiri gak tau kenapa dipilih, apa karena keterpaksaan, apa karena emang sebuah takdir What? Takdir! tapi bodo amat yang penting go forward and keep smile kayak Sesar lol :).
New Family
Seperti biasa, dalam KKN lokasi itu semua anggota KKN kebanyakan ya baru ketemu. Bisa dibilang sama-sama gak kenal gitulah. Walau ada sebagian yang udah sih.Nah, gue juga bernasib sama. Di posko, gue juga baru kenalan sama keempat teman baru gue ini. Nih, gue kenalin dulu ke kalian para life reader, sama keempat keluarga baru gue selama KKN di Wonosobo ini.
![]() |
| ilustrasi? enggak |
Back to the Story
Oke kita lanjut ke cerita, jadi sebelum berangkat semua udah disuruh kumpul di depan auditorium kampus. Gue sendiri bangun jam 4, solat dan mandi terus menuju audit jam 5.30. Sedangkan orang-orang rata-rata baru dateng jam 6. Kepagian! Sial! Acara jadi molor, harusnya jam 6 berangkat ke lokasi malah jadi gak jelas dan supermolor.Akhirnya setelah nungguin cukup lama, jam 7 kurang semua peserta yang bawa motor di suruh menuju ke depan gerbang buat take off ke Wonosobo! Yeay Kota ASRI! … tapi ternyata di depan gerbang macet total! Karena semua mahasiswa KKN yang naik motor mampetin jalanan, waduh acara nya terpaksa harus molor lagi sampe jam 8 sebelum akhirnya bener-bener berangkat menuju Wonosobo.
Jadi waktu sampe Kecamatan Kertek -cerita di perjalanan gue skip aja- kita dijemput sama dua orang bapak-bapak, yaitu Pak Kepala Desa Pagerejo dan Pak Carik (UDI WAHAYU, S.E. dan Pak TUWAT MUHANDOYO) kita saling tatap muka sambil nunduksetelah itu kita salaman. Gak lama setelah acara penyambutan di kecamatan, semua temen-temen disuruh naik ke mobil pak Tuwat menuju desa tujuan. Gue sama temen cowok satu lagi, naik motor ngikutin mobilnya Pak Tuwat.
Selama perjalanan, jalanan alus, cuaca oke sebelum tiba-tiba ladang gandum diserang dan jadilah kokokrunch! bukan bukan, jalanan menuju desa Pagerejo yang masih berupa makadam. Bikin gue panik. YES! gue beneran KKN! YES motor adik gue rusak! YES gpp! Bukan motor gue ini!
Setelah perjalanan yang seru abis, sampailah kita di rumah Pak Carik yang merupakan rumah yang selama 45 hari akan kita berlima tinggali dan berantaki. Di rumah yang sekaligus posko KKN ini, suasananya tenang, lantainya dingin, airnya bening dan hmm banyak oksigen seperti dibumi lhoh. Well, Kenapa gue bilang naik? soalnya desa tempat gue KKN berada di kaki gunung. Tepatnya berada di kaki gunung Sindoro, yang jaraknya kalo dari kecamatan ada sekitar 4 km kalo naik motor. Kalo lari, gue gak yakin gue bisa. Hmm lumayan juga ya.
Setelah ngobrol-ngobrol lucu dan minum-minum unyu bersama Pak Kades dan Pak carik kita berlima kemudian meninggalkan tempat ngobrol, berhubung muka-muka mahasiswanya kusut lantaran kecapekan perjalanan Semarang-Wonosobo. Kita berpencar menuju kamar yang sudah disediakan. 2 cowok ada di area depan, dan 3 cewek ada di area belakang.
Pas udah sampe kamar, yang pertama kali gue liat adalah kasur, tapi tunggu, sebagai koordinator yang bertanggung jawab, gue gak bisa seenak jidat gue tidur gitu aja. Makanya gue ambil wudhu, solat dzuhur dulu yang waktu itu udah jam 14.30 udah mepet banget solatnya.
Setelah solat, yang ada dipikiran gue cuma what i’m gonna do next? What kind of thing that we gonna do for this village? What kind of program that suit this place? What kind of food that taste good in this place? What about the rent? What if I can’t pay the rent? What if I will left alone and sleep outside the house with the cold wind? What If I’m die? Akhirnyague mikir sampe malem tentang bayar uang makan dan sewa.
Namun , Akhirnya, finally, in the end setelah rapat-rapat sebentar sama temen-temen, diputuskan kalo malam ini kita buat kerja pertama yang sebetulnya gak perlu dirapatin. Yaitu buat plang/papan penunjuk lokasi KKN buat dosen pembimbing lapangan kita (DPL). Kita start jam 7 malem. Sebetulnya yang kerja cuma mas Wildan doang sih, gue dan teman-teman lainnya gak paham masalah ginian. Tapi menurut gue ini adalah hal penting. Ini menyangkut masalah lini depan desa yang harus diperlihatkan kepada orang Wonosobo. Sebuah plang yang menunjukkan seberapa besar keseriusan kita sebagai tim. Sebuah plang yang harus dibuat dengan sepenuh hati! Merdeka! Merdeka!

nah, setelah buat cetakan papan penunjuk lokasi KKN, kita semua merebahkan tubuh ke kasur dan mulai memejamkan mata. Kegiatan yang menunggu kita besok udah jelas, yaitu melanjutkan membuat plang. Yeah man!
(Day 1 ended at 23.00)
Kesimpulan:
Ya, Hari pertama KKN bagi saya adalah sebuah awal dari ketidakmampuan saya sebagai manusia dalam memilih. Walau bagi saya memilih ‘something’ yang akan berhadapan langsung dengan kita itu merupakan sesuatu yang perlu kita pahami baik kulit, isi dan bagian yang tak terlihat nya.
Pilihan dalam memilih itu biasanya ada yang cocok dan sebaliknya, ada yang sama sekali belum pas. Namun, malahan terkadang dalam kehidupan, kita sama sekali tidak bisa memilih, walau… arti kehidupan itu sendiri adalah pilihan.
Lalu bagaimana jika pilihan didepan mata namun kita tidak bisa memilih?… begini, bayangkan saya adalah tipe orang yang pemilih dalam urusan menggunakan tinta. Saya lebih suka hitam, namun ketika itu hitam tidak ada dan hari sudah menunjukkan pukul 22.00 saya berada di sebuah desa terpencil, lalu bagaimana? Maka, warna lain bukan lagi soal karena jika memaksakan kehendak maka kita tidak akan bisa untuk memulai menulis. Bayangkan jika saya tidak mulai menulis maka, saya akan menunggu semalaman dan baru menulis esok pagi. Hal-hal besar akan terlewatkan begitu saja. Waktu-waktu berharga akan terbuang sia-sia begitu saja.
Berbicara tentang pilihan, saya jadi ingat sebuah kutipan dari sebuah novel karya Haruki Murakami 'Cara kita lahir di dunia tidak bisa dipilih, namun cara mati, bisa'.Dalam kutipan itu ada satu hal yang patut direnungkan dan dijadikan sebuah catatan.
Ketika kita lahir, semua orang bahagia. Orang tua kita, -mungkin sebagian tidak,- tapi secara umum, ya, lalu saudara-saudara kita, tetangga kita dan yang terakhir mungkin kita sendiri termasuk dalam orang yang bahagia. namun, tidak semua orang yang ‘dipilih’ (read: lahir) bahagia, termasuk juga dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya.Intinya, saat kita lahir semua orang memiliki perasaannya masing-masing. Entah itu mereka yang bahagia atau pula mereka yang membenci kelahiran kita. Lalu, jika seseorang lahir tanpa dipilih, dan jika kematiannya dapat dipilih, maka arti dari ‘cara kematiannya’ adalah bagaimana seseorang dapat menjalani kehidupannya dengan ‘usaha’ untuk tetap bertahan dan ‘usaha’ untuk dapat dikenang kematiannya. That’s all!
Saya bersyukur di hari pertama saya KKN, saya tidak memilih dan saya dipilih. Rasa syukur saya membawa saya kepada sebuah kebagagiaan. Bersama dengan, anggota, teman, kerabat dan keluarga baru semasa berada dalam program KKN.


Comments
Post a Comment